Pada saat pagi yang segar,
sejuk dan awan-awan yang masih terlihat
putih. Aku duduk di teras rumah. Angin
yang bertiupan membuat tubuhku menggigil, dan membuat bibirku gemetaran. Tidak
seperti biasanya, cuaca di pagi hari ini dingin. Tidak tersangka gerimis mulai
turun, dan tak lama kemudian hujan turun lebat menghampiriku.
Terdengar suara ibu
memanggil namaku dari arah belakang toilet. Melihat ibu yang menangis dan
memelukku sangat erat, dan mencium kedua pipiku. Tanpa aku menangis, lalu
bertanya, “ Ibu kenapa? Kok menangis, memangnya ada apa? Tanyaku. Ibu hanya
tetap menangis di pelukanku.
Ternyata, tak lama
kemudian ibu menjawab pertanyaanku. “ Ibu bermimpi kehilangan kamu selamanya,
dan kamu tidak mau mengaku ibu sebagai ibu kandung kamu”, cetus ibuku, dengan
suara senggegikan. Aku sama sekali tidak menjawab apa pun. Karena aku adalah
satu-satunya anak ibuku.
Kami hanya hidup berdua
di dalam rumah, rumah yang paling kecil di desa ini. Ayah yang sudah pergi
meninggalkan kami sejak lima tahun yang lalu.Tetapi aku merasa bahagia. Karen
ada ibu ada di sampingku. Yang menjagaku, menyayangiku, dan memanjakanku. Tidak
pernah aku merasakan sepi jika ibu ada di sampingku.
Hanya saja ibu pernah
marah karena aku tidak mau pergi ke sekolah, karena tidak ada uang jajan.
Tetapi sesudah ibu memarahiku ia selalu minta maaf terhadapku, sambil mengelus
rambut yang yang panjang hingga sepinggang. Saat pagi ia selalu membangunkanku
dari tidurku, menyuruhku untuk shalat shubuh, menyruhku mandi pagi, dan sarapan
pagi.
Setiap pagi ia menyisir
rambutku, mengikatkan rambutku dengan rapid an memberikan uang jajan kepadaku.
Di kelas hanya saya saja yang jajannya sangat sedikit. Ibu hanya memberinya
sekitar dua ribu atau pun tiga ribu. Teman-teman selalu bertanya, “ Kenapa
jajannya sedikit banget, Salsa? Aku selalu menjawab, karena ibu aku tidak
mempunyai uang sebanyak yang kalian punya. Kami serba berkecukupan kataku”.
Tetapi temanku tidak
pernah mengatakan atau mengejeku, malahan mereka berbaik budi, dan sering
memberikanku kue dan air minum. Sewaktu ada latihan dari guru bahasa Indonesia
ibu guru menyuruh kami untuk menciptakan sebuah puisi tersendiri. Aku
menciptakan puisi yang berjudul ibu selalu ddi sampingku. Semua teman-teman menangis
mendengar puisi yangku baca, dan bertepuk tangan yang meriah. Sesampai di rumah
aku menceritakan kepada ibuku. Ibuku
mencium kedua pipiku. Mendengar berita yang sangat menarik dariku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar