Entri Populer


widgets

Selasa, 26 Februari 2013

Ibu Selalu di Sampingku





Pada saat pagi yang segar, sejuk dan awan-awan  yang masih terlihat putih. Aku duduk  di teras rumah. Angin yang bertiupan membuat tubuhku menggigil, dan membuat bibirku gemetaran. Tidak seperti biasanya, cuaca di pagi hari ini dingin. Tidak tersangka gerimis mulai turun, dan tak lama kemudian hujan turun lebat menghampiriku.
Terdengar suara ibu memanggil namaku dari arah belakang toilet. Melihat ibu yang menangis dan memelukku sangat erat, dan mencium kedua pipiku. Tanpa aku menangis, lalu bertanya, “ Ibu kenapa? Kok menangis, memangnya ada apa? Tanyaku. Ibu hanya tetap menangis di pelukanku.
Ternyata, tak lama kemudian ibu menjawab pertanyaanku. “ Ibu bermimpi kehilangan kamu selamanya, dan kamu tidak mau mengaku ibu sebagai ibu kandung kamu”, cetus ibuku, dengan suara senggegikan. Aku sama sekali tidak menjawab apa pun. Karena aku adalah satu-satunya anak ibuku.
Kami hanya hidup berdua di dalam rumah, rumah yang paling kecil di desa ini. Ayah yang sudah pergi meninggalkan kami sejak lima tahun yang lalu.Tetapi aku merasa bahagia. Karen ada ibu ada di sampingku. Yang menjagaku, menyayangiku, dan memanjakanku. Tidak pernah aku merasakan sepi jika ibu ada di sampingku.
Hanya saja ibu pernah marah karena aku tidak mau pergi ke sekolah, karena tidak ada uang jajan. Tetapi sesudah ibu memarahiku ia selalu minta maaf terhadapku, sambil mengelus rambut yang yang panjang hingga sepinggang. Saat pagi ia selalu membangunkanku dari tidurku, menyuruhku untuk shalat shubuh, menyruhku mandi pagi, dan sarapan pagi.
Setiap pagi ia menyisir rambutku, mengikatkan rambutku dengan rapid an memberikan uang jajan kepadaku. Di kelas hanya saya saja yang jajannya sangat sedikit. Ibu hanya memberinya sekitar dua ribu atau pun tiga ribu. Teman-teman selalu bertanya, “ Kenapa jajannya sedikit banget, Salsa? Aku selalu menjawab, karena ibu aku tidak mempunyai uang sebanyak yang kalian punya. Kami serba berkecukupan kataku”.
Tetapi temanku tidak pernah mengatakan atau mengejeku, malahan mereka berbaik budi, dan sering memberikanku kue dan air minum. Sewaktu ada latihan dari guru bahasa Indonesia ibu guru menyuruh kami untuk menciptakan sebuah puisi tersendiri. Aku menciptakan puisi yang berjudul ibu selalu ddi sampingku. Semua teman-teman menangis mendengar puisi yangku baca, dan bertepuk tangan yang meriah. Sesampai di rumah aku menceritakan kepada ibuku. Ibuku  mencium kedua pipiku. Mendengar berita yang sangat menarik dariku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar