Entri Populer


widgets

Rabu, 24 April 2013

Resensi Buku



Menikmati Sabang di Novel Sunset in Weh Island
Resensi Sunset in Weh Island

Judul Buku      : Sunset in Weh Island
Penulis             : Aida MA
Penerbit           : Bentang Belia, 2013
Tebal Buku      : ±243

            Buku berjudul Sunset in Weh Island ini bercerita tentang romantisme dua remaja berbeda Negara, Axel dari Jerman dan Mala dari Indonesia. Setting Indonesia-nya mengambil lokasi di Pulau Weh, Sabang. Setelah membaca buku ini rasanya saya ingin pergi ke sana melihat matahari yang tenggelam di sana. Melalui buku ini saya serta merta membayangkan hal itu, rasanya mengagumkan sekali.
 Novel yang tebalnya lebih kurang 243 halaman ini, bukan buku pertama yang diterbitkan penulisnya, Aida MA. Buku lainnya yang pernah saya baca seperti, Berbagi Hati, Kereta Terakhir, Ya Allah beri Aku Kekuatan, dan Looking for Mr. Kim. Kak Aida ini ternyata bisa menulis berbagai genre dan mengemasnya dengan menarik sekali. Ia juga menulis dengan sungguh-sungguh, seperti di novel kali ini, ia harus belajar bahasa Jerman juga.
            Bagi saya yang masih duduk di bangku kelas tujuh, novel ini penuh semangat dan memotivasi saya untuk tahu lebih banyak hal lagi, terutama tentang Negara lainnya selain Indonesia. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dan terapkan di kehidupan kita sehari-hari sebagai generasi muda, seperti save the energy dan save the earth.
Saya juga termotivasi menjadi penulis karena bisa memberitahu orang lain tanpa menggurui, seperti yang penulis sampaikan melalui karakter tokohnya Mala. Saya berpikir ingin mencoba menulis cerita dengan lebih banyak membaca buku ringan namun berisi seperti novel Sunset in Weh Island ini. Sangat mengagumkan jika saya bisa menulis sebuah cerita .
            Dalam cerita ini sangat banyak tokoh-tokoh yang heboh, mengagumkan sampai menyebalkan. Yang pastinya Fida dan Rahmat yang sangat heboh dan lucu. Si Mata Zamrud Axel yang ganteng plus keren, banyak disukai para wanita. Ia pernah sakit hati karena dikhianati sahabatnya yang bernama Marcel . Marcel adalah sahabat Axel yang sangat baik dan tahu semua hal yang dialami Axel. Axel tidak menyangka sahabatnya yang sangat lama selama 10 tahun bisa mengkhianatinya.
            Andreea seorang gadis cantik yang menjadi rebutan Marcel dan Axel adalah puncak perdebatan mereka. Akhirnya semua pekerjaan Axel menjadi berantakan dan bosnya menganjurkan liburan untuk mengembalikan keceriaan dan menyelamatkan Axel dari kejenuhan. Saat liburan itulah Axel bertemu Mala. Mala masih berdarah Jerman dari sebelah ibunya. Di sini diceritakan Mala itu bertubuh mungil kecil, walaupun ia keturunan Jerman. Dalam opini saya, biasanya orang keturunan Jerman tinggi dan besar.
            Bram adalah ayah Mala. Bram sangat menyayangi Mala, semenjak ibu Mala meninggal. Sejak itu ayahnya menggantikan ibunya, ayahnya sekalian sahabat Mala. Alan tetangga Mala dan Bram adalah paman Axel, bekerja di Ie Boih, Sabang. Sebenarnya Mala sangat menyukai Raffi, tetapi sayangnya Mala tidak berani mengungkapkan rasa sukanya kepada Raffi. Apalagi setelah tahu kalau pacar Raffi ternyata seorang duta pariwisata Sabang. Mala patah hati.
             Axel dan Mala yang saling membenci dari sejak pertama bertemu kini menjadi saling mencintai. Benar kata orang bijak, kita tidak boleh membenci seorang itu berlebihan, karena bisa-bisa menjadi saling mencintai. Juga sebaiknya mencintai berlebihan pun jangan. Karena segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.
            Buku ini juga bagus dibaca oleh para remaja-remaja. Di dalam buku ini terdapat berbahasa Jerman dan bahasa Inggris. Saya sudah tahu bahasa Jermannya, “aku mencintai mu”, yaituIch liebe dich”. Terdengar seru sekali. Hanya ada beberapa potong adegan saat Andreea datang ke Sabang dan bertemu Axel, meminta Axel membantu sesuatu saat dia akan sun bathing, membuat saya yang masih anak-anak rasanya jadi malu.
            Saya benar-benar menikmati suasana Sabang hanya dari membaca buku ini saja, walau masih menyimpan cita-cita suatu hari akan ke Sabang dan menunggui sunset seperti yang Mala lakukan. Terima kasih Kak Aida, buku ini benar-benar seru dan menambah cakrawala berpikir saya dalam banyak hal namun disuguhkan dalam keadaan yang benar-benar bisa dinikmati. I enjoyed this novel.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar