Entri Populer


widgets

Rabu, 08 Mei 2013

Sejarah Jurnalistik



Pada awal nya,komunikasi antar manusia sangat bergantung pada komunikasi dari mulut kemulut.Catatan sejarah yang berkaitan dengan penerbitan media masa terpicu penemuan mesin cetak oleh Johanes Guthengerg .
Di Indonesia ,perkembangan kegiatan Jurnalistik di awali oleh Belanda.Beberapa juang kemerdekaan Indonesia pun menggunakan kewartawanan sebagai alat pejuang .Di era – era inilah Bintang Timper ,Bintang Barat ,Jara Bode dan Medan Prijaji .
Pada masa penduduk Jepang mengambil alih kekuasaan ,Koran –koran ini di larang ,akantetapi pada akhir nya ada lima media yang mendapat izin terbit : Asia Raja ,TJahaja ,Sinar Baru ,Sinar Matahari ,dan Suara Asia .
Kemerdekaan Indonesia membawa berkah bagi kewartawanan .Pemerintahan Indonesia menggunakan radio Republik Indonesia sebagai media komunikasi .Menjelang penyelenggaraan Asia Games (1V),pemerintahan memasuk kan proyek tilivisi sejak tahun 1962 ini lah televisi Republik Indonesia muncul dengan teknologi layar hitam putih .
Masa kekuasaan presidan Soekarno ,banyak terjadi pembredaran (penutup),media masa .KAsus harian Indonesia raya dan majalah tempo .Merupakan dua contoh kentara dalam sensor kekuasaan ini .Kontrol ini di pegang melalui dapertemen penerangan dan persatuan perwartawanan .

Petuah Pohon Tua



Pohon memeng sangat bermanfaat bagi kita semua. Bukan hanya pohon saja, bunga-bunga, tumbuhan, dan juga binatang bermanfaat bagi kita semua yang ada di dunia ini. Tuhan menciptakan segala galanya, agar dunia ini penuh dengan hiasan, yang hidup di dunia ini semuanya bermaanfaat dan tidak akan merugikan kiyta sendiri. Begitu juga dengan pohon ia bermanfaat utuk mencegah banjir, dan longsor.
Sebuah cerita, di sebuah desa , hampir semua masyarakat di desa itu selalu saja menebang pohon. Pertama-tamanya masyarakat yang ada di desa itu menebang pohon-pohon yang sudah tua, tetapi sayangnya mereka juga menebang pohon-pohon yang muda , . Kini mereka tidak peduli lagi dengan desa mereka, dan apa apa yang dilakukan oleh oleh meraka.
Pada suatu hari, dua buah gadis kecil pergi ke sebuah bukit, mereka ingin melihat bunga-bunga, dan juga kupu-kupu. Tibanya di sana mereka tidak ada lagi melihat bunga-bunga , dan kupu-kupu yang terdapat di bukit itu. Hati mereka sangat kecewa dengn kejadian tersebut, hingga juga satu pohon pun tidak ada lagi terdapat di sana.
Pada akhirya mereka melihat sebuah pohon dan berteduh di bawah pohon tersebut.tiba-tiba saat mereka berteduh terdengar suara dari sekeliling mereka. Tetapi tidak ada seorang pun tampak di sana. Ternyata pohon yang tua yang sedang mereka teduhilah yang berbicara” Wahai adik manis jangan lah takut, aku adalah pohon tua yang sedang kalian berteduh ini.
Terlihat diatas pohon itu burung-burung, dan hewan lain yang   hinggap di setiap cabangnya. Bukan hanya pohon itu saja yang berbicara, tetapi kupu-kupu, dan burung-burung juga berbicara. Pohon tua itu mengatakan “ tolong, jagalah kami dan hindari kami dari masyarat-masyarakat yang ada di sini, karena hanya saya lah pohon yang tinggal di bukit ini, cegahilah mereka”.
Lalu Riri dan Rere pulang ke kampung halamannya segera menceritakan kejadian yang  mereka alami, dan mencegahnya agar tidak menebang pohon lagi. Ternyata hanya sia-sia, masyarakat tidak percaya dan mengatakan hal itu hanya mimpi saja. Pergilah masyarakat tersebut,  ke bukit tersebut lalu menebang pohon tua itu. Burung-burung dan hewan lainnya terbang untuk menyelamatkan diri. Kini, Riri dan Rere sangat sedih atas nasib yang dialami oleh pohon tua tersebut.
Pada saat musim kemarau tiba, telaga-telaga, sungai-sungai, tenakan-ternakan masyarakat yang ada di desa tiu kekurangan air. Lalu masyarakat tersebut meminta kepada Tuhan, Tuhan yang maha pemurahpun mengabulkan do’a masyarakat  untuk diberi hujan. Satu hari penuh ujan terus menerus mengair dari atas langit. Kini masyarakat, sudah memiliki banyak air.
Pada akhirnya, terjadilah suatu peristiwa yang dasyat. Banjir dan longsor, menyerang kampung halaman mereka. Kini tidak ada lagi pohong yang bisa menyerap air dari dalam tanah. Rumah-rumah mereka hancur, dan banyak juga orang tewas. Riri dan Rere kini selamat dari bencana tersebut, hanya keluarganya saja lah yang hilang dari pelukan mereka. Bukankah pohon sangat bermanfaat bukan?


Panti Asuhan Muhammadiyah




Panti Asuhan Muhammadiyah Sibreh, Aceh Besar. Bisa membuat pin yang lucu-lucu, dan lain sebagainya. Pertama kali mereka belajar bersama tamu-tamu yang datang ke Panti Asuhan Muhammadiyah, SIbreh. Awalnya mereka hanya belajar, dan mencoba-coba. Bagaimana cara membuatnya, dan memperhatikan semua apa yang dilakukan oleh para tamu. 
Pada akhirnya anak asuh bisa membuat pin sendiri tanpa membelinya lagi. Mereka juga belajar untuk lebih baik membuat pin dengan motif yang lucu agar masyarakat tertarik pada motif mereka. Pada saat motif mereka lebih baik mereka akan menjual ke pasar dan ke tempat lain sebagainya.
Sebagian anak asuh juga membawa hasil pin mereka ke sekolah, agar teman-teman mereka melihat dan tertarik pada motif yang merPeka karyakan sendiri. Membuat pin ternyata sangat mudah bagi mereka. Mereka hanya membutuhkan kain fanel, lem, peniti, dan lain sebagainya.
                Dari hasil motif mereka, mereka mempunyai bekal dan lain sebagainnya. Ini adalah sebuah pelajaran yang mereka dapatkan. Jika saat mereka keluar dari Panti Asuhan, dan mereka nganggur, mereka bisa membuat karya ayng sudah mereka palajari. Ada sedikit bekal yang mereka dapatkan di Panti Asuhan Muhammadiyah.

Panennya Ikan Lele, Yang Ikan Menabjubkan



ikan lele yang pertama yang sangat menakjubkan di Dayah Pesantren Baiutl Arqam. Pada tanggal 5 Mei 2013, pada hari minggu, hingga malam senin. Pak Adi yang penjaga atau pun pengurus  ikan lele memanenkannya bersama orang yang ada di Dayah Pesantren Baitul Arqam. Dengan penuh keirangan di Dayah Pesantren Baitul Arqam.
            Selama sebulan setengah ikan lele sudah di pelihara di Dayah Pesantren Baitul Arqam. Dari 10.000 ribu ikan lele, yang hanya di panenkan sebanyak 350 ekor, yang basar dan memuaskan pastinya. Ikan lele ini di jual atau pun ekspor ke Pasar Penayung Banda Aceh.
            Ikan lele ini sangat dijaga dan sangat di atur makanannya oleh Bapak Adi.  Dalam satu hari Bapak Adi memberikan makan ikan lele sebanyak 6 kali sehari. Dengah hari berturut-turut.  Beliau memberikan makanannya pada saat pagi sebanyak 1 kg, Pada saat siang harinya beliau memberikan makanan ikan lele sebanyak 1 kg. Pada saat sore harinya beliau memberikan makanannya sebanyak 2 kg, begitu pula dengan malam harinya.
            Beliau memberikan makan ikan lele dengan secara berturut-turut, Dan Beliau tidak pernah lupa memberikannya. Jenis makanan tersebut terbagi kepada dua macam yaitu, Mabar, dan HI Profit. Ketinggian kola ini 4x8 meter.
            Pada saat malam senin terjadinya ikan lele panen, terdapat kejadian yang sangat mengacuhkan. Pada saat  Santri Baitul Arqam berdiri, dan sedang asyik memandang ikan lele yang lagi di panenkan, tiba-tiba keluarlah binatang yang sangat mengerikan dan menakutkan yaitu ulas piton. Ular piton tersebut melarikan diri ke salas satu kolam yang ada di saping, kolam yang tengah panen. Santri Baitul Arqam saat itu tercengang dengan kejadian tersebut.
            Panennya ikan lele tersebut hingga malam yang sangat larut. Pak Adi serta rekan-reknnya memanenkan ikan lele dangan puasnya hingga selesai. Biar pun pada malam yang sangat larut di sertai dengan hujan dan gerimis.(..)

Surat Untuk Ibuku




Bagaimana pun jauhnya seorang ibu dan seorang anaknya, pasti ia saling mengiat, menyayangi, dan lain sebagainya. Begitu juga degnan diriku. Sudah enam tahun yang lalu aku meninggalkan Ibuku untuk pergi merantau mencari ilmu dunia dan akhirat. Sudah sangat lama jauh dari sang Ibuku ingin lagi merasakan bagaimana hangatnya pelukannya. Karena pelukan yang paling hangat adalah pelukan Ibu bagi diriku. Bagitu juga dengan teman-teman sekalian.
            Bagiku Ibu adalah tempat mengadu segala hal, baik dikala senang, danda, sedih dan lain sebagainya. Siang matahari sangat lah terik, rasanya tubu ku seperti kebakar, dan sangat dekat dengan api unggun. Padahal hal itu hanya perasaanku saja. Saat tiba, kuambil pena, dan kuambil buku untuk menulis surat untuk ibu ku yang sangat jauh dari hidupku. Sempat berpikir….
            Selama enam tahun lamanya aku meninggalkan ibu di kampung halaman, tidak pernah sekali pun kukirim surat atau pun hadiah lainnya untuk Ibuku. Tidak seperti teman-temanku yang selalu saja mengirimkan sesuatu untuk ibunya, dan hadiah untuk ibunya. Begitu pula sebaliknya. Ibu teaman-temanku selalu saja mengirimkan sesuatu kepada anaknya,dan sepucuk surat untuk anaknya. 
            Kini ada niatku untuk mengirimkan sepucuk surat, dan sesuatu  yang dulunya sangat diinginkan oleh Ibuku. Langsung saja kuambilkan pena dan buku ayng sudah kusiapkan sejak dari tadi sebelumnya. Kubuka buku, dan kuratap foto ibuku, bagaiman keadaannya sekarang? “Aduh, mendingan aku langsung menulis saja surat untuk Ibuku”, pikirku sejenak.
            Asalammualaikum Warahmatulahi Wabarakatuh
Salam rindu buat Ibuku
Ibu, ini aku anakmu Nida, sekian lama kini telah kita berpisah Ibuku. Maafkan jika baru kali ini anakmu mengirimkan surat untukmu. Ibu, aku  sangat merindukanmu. Aku sangat khawatir dangan keadaanmu. Aku berharap agar kamu baik-baik saja, Ibu sekiranya ibu tidak susah payah untuk memikirkan keadaanku saat ini. Karena aku sangat tahu bagaimana jika anakmu pergi jahuh dari hidupmu.
Aku Nida selalu berdo’a Bu, agar kamu selalu terjaga, sehat selalu, panjang umurmu, da lain sebagainya. Ibu pengalamanku di sini dangat banyak. Biar pun anakmu ini tidak pandai, guru-guruku di sini sangat menyayangiku. O, iya bu, apakah kamu masih meningat apa yang kamu inginkan sejak dulu, yang tidak pernah tercapai? Kurasa kamu masih mengingat apa yang kamu inginkan itu. Sesuatu yang sangat kamu impiankan.
O, iya Ibu, ada berita yang sangat mengagumkan, aku mendapat biaya siswa untuk melanjutkan kuliah di sini. Insya Allah, tahun ini aku akan pulang ke kampung halaman, dan menemanimu selama dua bulan. Terima kasih Ibu, berkat do’amu untukku, dan kasih sayang yang tak pernah hilang untukku. Jangan lupa ya bu, untuk membuka hadiah yang kuberikan padamu. Aku sangat mencintaimu Bu, sampai kapan pun. Jangan melihat dari segi dan cantiknya hadiah yang kuberikan. Disetiap shalatku aku akan selalu berdo’a kepada Sang Ilahi, agar kita selalu dijaga, dan ditetapkan disisinya. Amin.
Demikian surat dari anakmu Nida,. Love you forever.
Asalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Karena malam yang sudah sangat larut, kubungkus hadiah untuk Ibuku, dan memberinya sedikit uang yang telah aku kumpulkan sejak lama. Lalu kuambil selimut, dan tidur dengan sangat pulas. Hanya menunggu pagi yang sangat cerah untuk pergi ke loket dan mengirimkan surat untuk Ibuku. Dengan penuh hati yang sangat girang.