Entri Populer


widgets

Rabu, 08 Mei 2013

Hari Yang Takku Duga



Kemarin hari sangat lah sejuk, semua santri Baitul Arqam terlelap ditidurnya, begitu juga denganku. Tetapi saat tidurku sudah pulas, aku terbangun dari tidurku, dan mengambil sebuah buku yang bewarna ping untuk menulis. Buku ini adalah buku cerita yang kutulis sendiri. Sudah dua hari yang lalu aku menulis cerita, cerita tentang keluargaku. Saat seketika aku keluar dari asrama.
Saat duduk, kuambilkan jaketku dan segera untuk kupakai. Angin bersepoi-sepoi, dan hujan yang sangat deras membasahi bukuku. Saat menulis tentangku aku menangis dan mengeluarkan air mata. Teringat masa laluku yang sangat menderita. Pada saat kumenulis cerita tersebut, aku ingat kepada seseorang yang sangat menyayangiku, yaitu ayah. Sudah sebulan lebih ia tidak menanyakan kabarku, aku merasa iri, dan seolah-olah tidak diperdulikan. Tetapi biar bagaimana pun orang tua pasti selalu merindulkan anaknya.
Pada saat asyik duduk untuk menulis aku melihat dua orang laki-laki memakai motor pergi menuju arahku. Saat melihat wajahnya, perasaan saya pernah melihat wajah lelaki ini. Masya Allah takku sangka lalaki tersebut adalah ayahku, dan juga abangku. Karena ayahku terlalu muda terlihat dari jauh, aku tidak mengenalnya.
Ternyata Tuhan yang maha kuasa, masih mempertemukan aku dengan ayahku. Tidak kusangka, saat menulis tentang ayahku tiba-tiba ia muncul di hadapanku. Ku dekati ayahku dan mencium tangan kanannya, begitu juga dengan ayahku. Ayahku bertujuan untuk menjengukku, dan juga kakakku.Baju yang di pakai oleh ayah, dan abangku kini basah kuyup, sepertinya mereka kedinginan.
Saat ayah ku berdiri, aku memberikan kursi untuk ia duduki. Sayangnya aku tidak bisa mengajak ayahku masuk ke dalam rumah, karena di asrama, tidak diberikan kedua orang tua untuk memasuki asrama kami. Tetapi hal itu tidak masalah bagi ayahku dan abangku, karena mereka sudah mengerti. Saat berbincang-bincand, ayah menanyakan tentang kakakku, aku hanya bisa mengatakankan hal sebenarnya. Menceritakan hal yang sebenarnya hingga panjang lebar.
Ayahku hanya mengangguk kepala, kini ekspresi wajah ayahku pun menjadi sedih dan kebingungan. Hanya sebentar saja ayahku duduk berbincang-bincang dengangku. Ia langsung minta pamit untuk pergi ke Ketapang, untuk pergi menasihati kakakku. Begitu setianya ayahku, pergi dari Takengon (Aceh Tengah) menuju ke Banda Aceh, hanya untuk menasihati kakakku.
Maafkan aku ayah, dan juga kakakku, karena sudah membuatmu kecewa. Tetapi aku berjanji, jika kakak sudah membuat ulah aku tidak akan membuat ulah lagi. Aku tidak mau membuat kamu berfikir terlalu banyak, dan tidak akan membuat ulah. Kini tidak ku sadari juga bahwa badan ayah ku terlihat sangat kurus, tidak seperti biasanya. Apakah karena ayahku banyak berfikir, dan lain sebagainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar