Kemarin hari sangat lah sejuk,
semua santri Baitul Arqam terlelap ditidurnya, begitu juga denganku. Tetapi
saat tidurku sudah pulas, aku terbangun dari tidurku, dan mengambil sebuah buku
yang bewarna ping untuk menulis. Buku ini adalah buku cerita yang kutulis
sendiri. Sudah dua hari yang lalu aku menulis cerita, cerita tentang
keluargaku. Saat seketika aku keluar dari asrama.
Saat duduk, kuambilkan jaketku
dan segera untuk kupakai. Angin bersepoi-sepoi, dan hujan yang sangat deras
membasahi bukuku. Saat menulis tentangku aku menangis dan mengeluarkan air
mata. Teringat masa laluku yang sangat menderita. Pada saat kumenulis cerita
tersebut, aku ingat kepada seseorang yang sangat menyayangiku, yaitu ayah.
Sudah sebulan lebih ia tidak menanyakan kabarku, aku merasa iri, dan
seolah-olah tidak diperdulikan. Tetapi biar bagaimana pun orang tua pasti
selalu merindulkan anaknya.
Pada saat asyik duduk untuk
menulis aku melihat dua orang laki-laki memakai motor pergi menuju arahku. Saat
melihat wajahnya, perasaan saya pernah melihat wajah lelaki ini. Masya Allah
takku sangka lalaki tersebut adalah ayahku, dan juga abangku. Karena ayahku
terlalu muda terlihat dari jauh, aku tidak mengenalnya.
Ternyata Tuhan yang maha kuasa,
masih mempertemukan aku dengan ayahku. Tidak kusangka, saat menulis tentang
ayahku tiba-tiba ia muncul di hadapanku. Ku dekati ayahku dan mencium tangan
kanannya, begitu juga dengan ayahku. Ayahku bertujuan untuk menjengukku, dan
juga kakakku.Baju yang di pakai oleh ayah, dan abangku kini basah kuyup,
sepertinya mereka kedinginan.
Saat ayah ku berdiri, aku
memberikan kursi untuk ia duduki. Sayangnya aku tidak bisa mengajak ayahku
masuk ke dalam rumah, karena di asrama, tidak diberikan kedua orang tua untuk
memasuki asrama kami. Tetapi hal itu tidak masalah bagi ayahku dan abangku,
karena mereka sudah mengerti. Saat berbincang-bincand, ayah menanyakan tentang
kakakku, aku hanya bisa mengatakankan hal sebenarnya. Menceritakan hal yang
sebenarnya hingga panjang lebar.
Ayahku hanya mengangguk kepala,
kini ekspresi wajah ayahku pun menjadi sedih dan kebingungan. Hanya sebentar
saja ayahku duduk berbincang-bincang dengangku. Ia langsung minta pamit untuk
pergi ke Ketapang, untuk pergi menasihati kakakku. Begitu setianya ayahku,
pergi dari Takengon (Aceh Tengah) menuju ke Banda Aceh, hanya untuk menasihati
kakakku.
Maafkan aku ayah, dan juga
kakakku, karena sudah membuatmu kecewa. Tetapi aku berjanji, jika kakak sudah
membuat ulah aku tidak akan membuat ulah lagi. Aku tidak mau membuat kamu berfikir
terlalu banyak, dan tidak akan membuat ulah. Kini tidak ku sadari juga bahwa
badan ayah ku terlihat sangat kurus, tidak seperti biasanya. Apakah karena
ayahku banyak berfikir, dan lain sebagainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar