Pagi Yang Kutunggu
Ayam
jantan berkukuruyuk membuat bangunya aku dari tidurku, Hari ini adalah hari
yang sangat berbeda dengan hari-hari yang lainnya. Pagi yang sangat sejuk
membuat badanku lebih segar, Biarpun mataku yang masih ingin tidur lebih
lanjut, tetepi aku menalahkannya. Ku ambil air wushu dan slalat.
menunaikan
shalat subuh seperti biasanya. Dalam setiap sehabis shalatku, aku selelu
berdo’a kepada Tuhan yang maha kuasa. Agar diberi kemudahan unutk belajar ilmu
dunia dan akhirat.
“ Ya, Allah, ampunilah dosa kedua
oran tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayaniku di waktu kecil. Ya
Allah lindungilah kedua orang tuaku baik yang sudah almarhum, biarpun yang
masih hidup. Jauhkanlah mereka dari api neraka jahanam yan sangat dahsyat, dan
siska alam kubr yang sangat pedih. JAuhkan lah mereka dari segala penyakit,
tempatkanlah mereka disisimu, Ya Allah. Dan jadikanlah aku anak yang shalihah,
berbakti kepada kedua orang tua, dan berikanlah kemudahan untukku untuk
menuntut ilmu dunia akhirat. Amin, yarabbal Alamin….”
Di
setiap shalatku aku hanya bisa mendo’akan kedua orang tuaku, diriku, dan umat
muslim yang ada di dunia ini, baik yang masih hidup, maupun yang sudah
almarhum. Selesai berdo’a langsung ku lipati mukenah shalatku, dan meranjak ke
kamar mandi yang ada di samping kamarku.
Mandi
dengan bersih agar segar, pikiran menjadi jernih,dan semangat untuk bekerja
hari ini mengirimkan surat untuk ibuku menjadi lebih gigih, amin. Selesaiku
mandi, aku mengenakan baju yang sangat aku cintai dan yang paling aku sukai, yaitu
baju gamis, yang terakhir kalinya dibelikan oleh ibuku. Warnanya biru muda
sangat cerah, jika memandang baju tersebut aku selalu mangingat dan
membayangkan wajah ibuku. Sambil mengenakan pakaianku aku mangenakan jilbab
yang bewarna biru pula, birunya biru tua. Bukankah sangat serasi. baju yang
paling aku sayangi, dari seorang ibu yang sangat mencintai diriku.
Ia
membelinya dengan uang tabungannya, begitulah seorang ibu. Ia hanya ingin
anaknya yang bahagia. Jika ia tidak membeli pakaian baru hal tiu tidak masalah
bagi dia. Oh betapa mulianya engaku Ibu, bagaimana aku bisa membalas jasamu.
Aku
sangat masih mengingat, kata-kata yang aku keluarkan dari hati ini, saat kelas
6 SD, guru Bahasa Indonesia yang bernama Ibu Harni ia berikan latihan berupa
kata-kata untuk kedua orang tua kita. Saat kata-kata itu aku katakana aku
sempat mendapatkan nilai yang tertinggi. Alhamdullilah, nilai yang sangat
memuaskan saat aku tunjukkan kepada ibuku. AKu hanya mengatakan kata-kata yang
sangat singkat, padat, dan jelas.
Sembilan bulan
Ibu mengandung
Dan melahirkan
kita ke dunia
Cinta kasihnya,
tak terbalas dengan emas permata
Syurga di telapa
kaki Ibu
Itulah hadist
Nabi Muhammad
Kalau kita
durhaka padanya
Di akhirat
mendapat siksa
Dan siksaan itu
sangatlah perih
Yang tak pernah
kita rasakan didunia
Apakah kita
sanggup merasakannya?
Maka janganlah
kita melawan kedua orang tua kita, terutama Ibu
Dan janganlah
sekali-kali mengatakan “ah” kepadanya
Hanya
kata-kata itu yang aku tulis di bukuku, sudah mendapatkan nilai “A”. Saat sampainya
di rumah aku memberitahukannya kepada ibuku, ibuku mencium pipiku dan
mengeluarkan air mata karena terharu. Ia membacakan kata-kata tersebut dengan
penuh linangan air mata. Dan menanyakan kepadaku, “ Nida, anak Ibu, dari mana
kata-kata itu kamu mengambilnya?”, ” dari hatiku Ibu”, jawabku singkat.
Kemudian Ibuku memeluk tubuhku dengan sangat erat.
Pengalaman in adalah pengalman yang sangat
menakjubkan, dan yang pernahku lupakan. Sejak sekarang pun jasa Ibuku belum
terbalas dengan apa pun, hanya dengan do’a aku bisa membalas jasanya, biar pun
do’a belum setara dengan jasa ibuku, tetapi aku hanya bisa mengirimkan do’a
kepadanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar