Entri Populer


widgets

Rabu, 15 Mei 2013

Pagi Yang Kutunggu

Pagi Yang Kutunggu



Ayam jantan berkukuruyuk membuat bangunya aku dari tidurku, Hari ini adalah hari yang sangat berbeda dengan hari-hari yang lainnya. Pagi yang sangat sejuk membuat badanku lebih segar, Biarpun mataku yang masih ingin tidur lebih lanjut, tetepi aku menalahkannya. Ku ambil air wushu dan slalat.
menunaikan shalat subuh seperti biasanya. Dalam setiap sehabis shalatku, aku selelu berdo’a kepada Tuhan yang maha kuasa. Agar diberi kemudahan unutk belajar ilmu dunia dan akhirat.
“ Ya, Allah, ampunilah dosa kedua oran tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayaniku di waktu kecil. Ya Allah lindungilah kedua orang tuaku baik yang sudah almarhum, biarpun yang masih hidup. Jauhkanlah mereka dari api neraka jahanam yan sangat dahsyat, dan siska alam kubr yang sangat pedih. JAuhkan lah mereka dari segala penyakit, tempatkanlah mereka disisimu, Ya Allah. Dan jadikanlah aku anak yang shalihah, berbakti kepada kedua orang tua, dan berikanlah kemudahan untukku untuk menuntut ilmu dunia akhirat. Amin, yarabbal Alamin….”
Di setiap shalatku aku hanya bisa mendo’akan kedua orang tuaku, diriku, dan umat muslim yang ada di dunia ini, baik yang masih hidup, maupun yang sudah almarhum. Selesai berdo’a langsung ku lipati mukenah shalatku, dan meranjak ke kamar mandi yang ada di samping kamarku.
Mandi dengan bersih agar segar, pikiran menjadi jernih,dan semangat untuk bekerja hari ini mengirimkan surat untuk ibuku menjadi lebih gigih, amin. Selesaiku mandi, aku mengenakan baju yang sangat aku cintai dan yang paling aku sukai, yaitu baju gamis, yang terakhir kalinya dibelikan oleh ibuku. Warnanya biru muda sangat cerah, jika memandang baju tersebut aku selalu mangingat dan membayangkan wajah ibuku. Sambil mengenakan pakaianku aku mangenakan jilbab yang bewarna biru pula, birunya biru tua. Bukankah sangat serasi. baju yang paling aku sayangi, dari seorang ibu yang sangat mencintai diriku.
Ia membelinya dengan uang tabungannya, begitulah seorang ibu. Ia hanya ingin anaknya yang bahagia. Jika ia tidak membeli pakaian baru hal tiu tidak masalah bagi dia. Oh betapa mulianya engaku Ibu, bagaimana aku bisa membalas jasamu.
Aku sangat masih mengingat, kata-kata yang aku keluarkan dari hati ini, saat kelas 6 SD, guru Bahasa Indonesia yang bernama Ibu Harni ia berikan latihan berupa kata-kata untuk kedua orang tua kita. Saat kata-kata itu aku katakana aku sempat mendapatkan nilai yang tertinggi. Alhamdullilah, nilai yang sangat memuaskan saat aku tunjukkan kepada ibuku. AKu hanya mengatakan kata-kata yang sangat singkat, padat, dan jelas.
Sembilan bulan Ibu mengandung
Dan melahirkan kita ke dunia
Cinta kasihnya, tak terbalas dengan emas permata
Syurga di telapa kaki Ibu
Itulah hadist Nabi Muhammad
Kalau kita durhaka padanya
Di akhirat mendapat siksa
Dan siksaan itu sangatlah perih
Yang tak pernah kita rasakan didunia
Apakah kita sanggup merasakannya?
Maka janganlah kita melawan kedua orang tua kita, terutama Ibu
Dan janganlah sekali-kali mengatakan “ah” kepadanya
Hanya kata-kata itu yang aku tulis di bukuku, sudah mendapatkan nilai “A”. Saat sampainya di rumah aku memberitahukannya kepada ibuku, ibuku mencium pipiku dan mengeluarkan air mata karena terharu. Ia membacakan kata-kata tersebut dengan penuh linangan air mata. Dan menanyakan kepadaku, “ Nida, anak Ibu, dari mana kata-kata itu kamu mengambilnya?”, ” dari hatiku Ibu”, jawabku singkat. Kemudian Ibuku memeluk tubuhku dengan sangat erat.
 Pengalaman in adalah pengalman yang sangat menakjubkan, dan yang pernahku lupakan. Sejak sekarang pun jasa Ibuku belum terbalas dengan apa pun, hanya dengan do’a aku bisa membalas jasanya, biar pun do’a belum setara dengan jasa ibuku, tetapi aku hanya bisa mengirimkan do’a kepadanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar